
Biarlah pengurus beberapa cabang olahraga yang menjawab mengapa selama ini mereka seksis: memisahkan wanita dan pria. Bukan hanya di atletik melainkan juga di voli, basket dan sepakbola.
Adapun untuk tinju misalnya, mestinya hanya ada kelas berdasarkan berat badan, bukan kelamin, dengan atribut yang sama untuk tinju pro dan amatir.
Baiklah, siapa yang lebih kuat (atau lebih lemah) biarlah jadi debat tak mutu. Yang lebih penting adalah menjawab siapa yang lebih egoistik dalam kasus angkut dan tenggak minuman ini.
Tapi, ah, pertanyaan ini pun mengada-ada. Kedua hal yang terjadi di tempat dan waktu yang sama itu tak berhubungan. Yang menggotong silakan capek, yang minum silakan menikmati. Gitu aja kok repot.
© photo: unknown
6 tanggapan so far ↓
ferigunawan // 27 Februari 2007 pada 08:45:02 |
mbok2 jamu kuat nggendong dagangannya keliling kampung…mbok jamu kan wanita. Jadi? Mboh lah
srinthil // 27 Februari 2007 pada 08:47:32 |
Sing jelas, lebih kuat wong wedok mas. Bawa 2 gunung kemana2 he..he.. Salam kenal
bangsari // 27 Februari 2007 pada 12:53:00 |
kalo gitu, jadilah cowok. tinggal payungan ngawasi bawahan (wedok) kerja. enak to?
-tikabanget- // 27 Februari 2007 pada 13:34:12 |
hehhe..
ndak jentel ahh…
jangan2 yang cewek itu budaknya..?
venus // 27 Februari 2007 pada 13:45:12 |
gitu aja kok repot. kalo gitu, daripada repot ngetik, mendingan situ traktir saya makan2. piye?
Dee // 28 Februari 2007 pada 10:44:36 |
@Srinthil
Iya mbak, kalo cowok, cuma kuat mbawa dua butir kelereng, itupun masih dibantu sama burung ya